Satwa Ilegal Di Double O Dievakuasi BKSDA Papua Barat

Oasepapua.id– Balai Besar KSDA Papua Barat berserta karantina satwa lakukan evakuasi satwa-satwa yang dilindungi tanpa izin di areal tempat hiburan malam Double O di jalan Sungai Meruni, Kota Sorong, Papua Barat Selasa (9/7/2019).

Evakuasi kebayakan satwa-satwa jenis burung yang diduga diperjual belikan secara ilegal untuk sementara akan dititipkan di taman burung milik KSDA Papua Barat di Aimas/ Kabupaten Sorong.

Belasan petugas dari balai konservasi sumber daya alam dibantu kantor karantina hewan Kota Sorong mulai mendatangi TKP, satu persatu burung-burung yang dipelihara dalam sangkar ditangkap petugas, lalu dimasukan kedalam sangkar khusus disediakan petugas. Satwa burung yang dievakuasi diantaranya kakatua koki, betet paruh besar, makaw scarlet dan kakatua raja

Herry Wibowo Kepala Bidang Teknis KSDA Papua Barat menjelaskan pihaknya akan membiarkan burung-burung ini beradaptasi dengan burung-burung lainnya di  taman burung yang terletak di Kota Baru Aimas, Kabupaten Sorong. Sebelum siap dilepas liarkan ke habitatnya khususnya kakatua jambul kuning dan kakatua raja adalah satwa endemik papua.

“Kalau di kami, untuk satwa yang dilindungi tentu saja apabila sudah layak secara kesehatan dan secara perilaku sudah siap dilepas, pasti kita lepas liarkan karena untuk kakatua jambul kuning dan kakatua raja itu kan habitatnya di Papua ini saja. Artinya kalau sudah siap segera kita lepas.” Tegasnya.  

Selanjutnya, Firdiana Krisnaningsih Dokter hewan  dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kota Sorong yang ikut memeriksa kondisi kesehatan satwa-satwa tersebut menjelaskan pada umumnya satwa-satwa ini dalam kondisi sehat namun untuk satwa yang berasal dari luar negeri seperti kucing karakal dari afrika dan monyet mini dari amerika latin akan diperiksa lagi untuk memastikan satwa-satwa ini tidak tertular rabies dari negara asalnya dan rencananya akan dikirim ke kebun binatang di luar papua barat untuk dipelihara.

“Kita harus memastikan karena ada beberapa penyakit yang dia itu lama baru bisa memunculkan gejala. Ini nanti akan diperiksa lebih lanjut. Kita akan berkoordinasi dengan BKSDA untuk memeriksaan-pemeriksaan selanjutnya untuk mencegah kemungkinan sonosis atau penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya.”Jelasnya. 

Sampai saat ini pihak polisi masih terus menyelidiki siapa pemilik penangkaran dan satwa-satwa tersebut. Sementara managemen tempat hiburan malam Double O menolak disebut pemilik penangkaran dan tempat jual beli hewan secara ilegal tersebut. (JJ)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.